{"id":1154,"date":"2022-08-13T08:58:24","date_gmt":"2022-08-13T01:58:24","guid":{"rendered":"https:\/\/wpsandbox4.undip.ac.id\/?p=1154"},"modified":"2022-08-13T08:58:39","modified_gmt":"2022-08-13T01:58:39","slug":"kebutuhan-tampungan-air-untuk-mengendalikankelebihan-limpasan-permukaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/?p=1154","title":{"rendered":"KEBUTUHAN TAMPUNGAN AIR UNTUK MENGENDALIKANKELEBIHAN LIMPASAN PERMUKAAN"},"content":{"rendered":"[et_pb_section admin_label=&#8221;section&#8221;]\n\t\t\t[et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221;]\n\t\t\t\t[et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243;][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221;]\n<figure class=\"wp-block-image alignleft size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Asrul-Merah-837x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1155\" width=\"133\" height=\"163\" srcset=\"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Asrul-Merah-837x1024.jpeg 837w, https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Asrul-Merah-245x300.jpeg 245w, https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Asrul-Merah-768x939.jpeg 768w, https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Asrul-Merah-480x587.jpeg 480w, https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/Asrul-Merah.jpeg 853w\" sizes=\"(max-width: 133px) 100vw, 133px\" \/><figcaption>Asrul Pramudiya<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\">Penanganan banjir selama ini fokus pada peningkatan kapasitas sungai sementara pengelolaan air hujan<br>di daerah aliran sungai (DAS) sebagai sumber air masih terabaikan, sehingga perlu dikembangkan<br>metode peningkatan fungsi DAS dengan merumuskan kebutuhan tampungan air. Disamping itu<br>pengendalian banjir (struktural) saat ini lebih pada mengendalikan limpasan permukaan\/kuantitas air<br>hujan dengan jalan meningkatkan\/mengembalikan fungsi DAS yaitu menampung dan menyimpan air<br>hujan, berupa membangun tampungan di hulu DAS. Tampungan air berfungsi mengelola kuantitas air<br>hujan dengan mengendalikan debit puncak saat kejadian banjir, dan sebagai fasilitas penyimpanan air<br>yang paling efektif untuk mengatur air. Tampungan air dapat berupa kolam penahanan (detention<br>basin), kolam retensi (retention basin), kolam penundaan (retarding basin), dan embung (small dam).<br>Penelitian ini bermaksud merumuskan kebutuhan kapasitas volume tampungan DAS, melalui<br>penentuan volume tampungan DAS yang optimal dengan volume tampungan sebagai fungsi limpasan<br>permukaan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan limpasan permukaan berbagai periode ulang<br>banjir, menentukan volume tampungan sebagai fungsi limpasan permukaan, menentukan volume<br>tampungan DAS yang paling optimal, dan merumuskan kebutuhan kapasitas volume tampungan DAS.<br>Penelitian dilaksanakan pada DAS Jatigede seluas 1.468,22 km2, berada di Kabupaten Garut dan<br>Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. DAS Jatigede terdapat 92 Sub DAS dan merupakan hulu<br>dari DAS Cimanuk.<br>Data yang digunakan yaitu data primer (pengukuran debit sungai) dan data sekunder (curah hujan harian<br>rata-rata Tahun 2011-2020, peta jenis tanah Tahun 2020, peta tata guna lahan Tahun 2011 dan Tahun<br>2020), dimana data primer digunakan sebagai kalibrasi penelitian. Analisis limpasan permukaan banjir<br>dengan metode soil conservation service (SCN) curve number (CN), dan model debit banjir HEC-HMS.<br>Debit limpasan permukaan dengan HEC-HMS dikonversi menjadi volume tampungan dari semua Sub<br>DAS pada segmen 1 dan segmen 2 DAS Jatigede. Waktu konsentrasi (\ud835\udc61\ud835\udc50) dipakai dalam analisis<br>tersebut. Volume tampungan setiap Sub DAS dikonversi sehingga didapat kedalaman limpasan<br>permukaan berbagai periode ulang. Rumusan kebutuhan kapasitas volume tampungan didapat dari hasil<br>analisis volume tampungan paling optimal berdasarkan kemiringan sungai. Hasil rumusan yang didapat<br>divalidasi dengan volume tampungan hasil konversi limpasan permukaan HEC-HMS, validasi<br>dilakukan segmen 3 DAS Jatigede (Pulau Jawa), DAS Jangkok (Pulau Lombok), DAS Tanggek (Pulau<br>Lombok), dan DAS Jeran (Pulau Sumbawa).<br>Hasil rumusan kebutuhan kapasitas volume tampungan DAS ditemukan rumusan volume tampungan<br>hulu DAS (VTHD) menghasilkan persamaan volume tampungan paling optimal berdasarkan<br>kemiringan sungai, periode ulang Q10 untuk slope 0,1 dan periode ulang Q25 untuk slope 0,01.<br>Persamaan yang representatif untuk menghitung volume tampungan hulu DAS (VTHD) berdasarkan 2<br>(dua) kemiringan sungai, slope 0,1 dengan persamaan \ud835\udc49\ud835\udc47\ud835\udc3b\ud835\udc37 = \ud835\udc34 \u00d7 (0,0011 \ud835\udc36\ud835\udc413,5276), dan slope 0,01<br>dengan persamaan \ud835\udc49\ud835\udc47\ud835\udc3b\ud835\udc37 = \ud835\udc34 \u00d7 (0,0036 \ud835\udc36\ud835\udc413,2332). Validasi VTHD dilakukan pada segmen 3 DAS<br>Jatigede (Pulau Jawa), DAS Jangkok dan DAS Tanggek (Pulau Lombok), dan DAS Jeran (Pulau<br>Sumbawa). Rata-rata tingkat akurasi VTHD untuk slope 0,1 sebesar 71,11 %, slope 0,01 sebesar 71,31<br>%. Hal ini menunjukkan model VTHD dapat diterapkan untuk menghitung kebutuhan kapasitas<br>tampungan air di hulu DAS. Hasil validasi menunjukkan VTHD lebih efektif dibangun\/diterapkan pada<br>luas DAS kurang dari 25 km2 untuk mengendalikan limpasan permukaan DAS, dapat dengan<br>memanfaatkan sempadan sungai.<\/p>\n[\/et_pb_text][\/et_pb_column]\n\t\t\t[\/et_pb_row]\n\t\t[\/et_pb_section]","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>[et_pb_section admin_label=&#8221;section&#8221;] [et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221;] [et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243;][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221;] Penanganan banjir selama ini fokus pada peningkatan kapasitas sungai sementara pengelolaan air hujandi daerah aliran sungai (DAS) sebagai sumber air masih terabaikan, sehingga perlu dikembangkanmetode peningkatan fungsi DAS dengan merumuskan kebutuhan tampungan air. Disamping itupengendalian banjir (struktural) saat ini lebih pada mengendalikan limpasan permukaan\/kuantitas airhujan dengan jalan meningkatkan\/mengembalikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1154","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-teknologi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1154"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1154\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1157,"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1154\/revisions\/1157"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dts.ft.undip.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}